Lasusua, kajinews.com – Mungkin banyak yang belum mengetahui kalau Desa Amowe di kecamatan Pakue Utara, Kolaka Utara memiliki potensi unggulan pada sektor pertanian-perkebunan, Nilam.

Nilam yang memiliki nama lain pogostemon cablin adalah salah satu tanaman yang sering ditemui di daerah Asia dan memiliki banyak manfaat.

Di Indonesia, daunnya dimanfaatkan untuk pembuatan minyak wangi hingga obat tradisional yang kaya akan manfaat.

Bagian dari tanaman Nilam yang sering digunakan adalah bagian daun yang digunakan sebagai bahan untuk menghasilkan minyak nilam atau minyak atsiri. Selain populer di dalam negeri, minyak nilam juga sering digunakan untuk pembuatan minyak wangi hingga dupa di luar negeri khususnya di kawasan timur.

See also  Selimut Tebal Konflik Pertanahan di Pangkep

Selain digunakan untuk membuat minyak nilam yang berfungsi untuk pengharum. Nilam ternyata juga dapat dimanfaatkan untuk hal lain dalam dunia kesehatan.

Sayangnya, masyarakat dalam usaha budidaya maupun produksi minyak atsiri belakangan ini mengalami sejumlah kendala.

Hal itu menjadi temuan L-KAJI saat menjalankan program monitoring hasil pembangunan di Sulawesi Tenggara.

Selaku ketua tim monitoring, Rangga menyampaikan kalau hal itu tidak bisa dibiarkan mengingat potensi yang dimiliki tumbuhan tersebut, demikian pula terhadap nilai ekonomi yang bisa dinikmati masyarakat petani dan produsen minyak atsiri.

Berdasarkan keterangan yang diperoleh, untuk setiap kilogram daun nilam bernilai antara 400 s/d 600 ribu rupiah. Nilai yang sangat fantastis.

See also  Jadi Sorotan Warga Net, Gapura Kambara Diharap Berikan Rasa Aman

Sehingga dinas terkait, bupati kolot bahkan gubernur sultra wajib memberikan solusi agar perekonomian masyarakat di desa tersebut tetap menggeliat.

“Mereka masyarakat petani dan masyarakat produsen nilam di desa itu mestinya mendapatkan bantuan berupa pelatihan dan bantuan dana segar dari pemerintah,” tegas Rangga.

Kepada awak media, dia menyampaikan sejumlah kendala yang ada, diantaranya SDM petani nilam yang masih dianggap rendah. Selain itu, alat produksi minyak atsiri yang sudah rusak, sumber air dan permodalan.

Lanjut, Rangga menyampaikan bahwa satu yang masih tersisa yakni semangat petani nilam untuk bertahan di tengah terpaan berbagai kendala yang dihadapi.

Untuk itu, dia mendesak pemerintah daerah bahkan menteri untuk melihat dan merasakan kendala masyarakat petani nilam yang ada di Sultra sekaligus memberikan jalan keluar terhadap masalah yang dihadapi.

See also  Mantap, Bupati Gowa Daftarkan Honorer Empat SKPD di BPJS Ketenagakerjaan

Mencoba menindak lanjuti curhat masyarakat, tim monitoring L-KAJI bersama sejumlah wartawan mencoba menemui bupati kolut.

Melalui Satpol PP yang tugas jaga di rujak bupati saat itu,  menyampaikan pesan ajudan bahwa bupati tidak menerima tamu.

Padahal sebelumnya telah disampaikan bahwa tim monitoring membawa amanah masyarakat petani nilam dan produsen minyak atsiri. Namun pihak petugas di rumah jabatan bupati kolut tetap bersikukuh bahwa bupati tidak mau ganggu. / Dod