Nilam Mengangkat Perekonomian Indonesia Dari Desa Amowe

Desa Amowe adalah salah satu dari sekian banyak desa yang ada Kolaka Utara, Sultra.

L-KAJI melalui Tim Monitoringnya dalam rangka memantau hasil-hasil pembangunan di Sultra menemukan beberapa potensi yang ada. Satu diantaranya adalah Tanaman Nilam.

Dari berbagai sumber, diketahui kalau selain 10 manfaat nilam untuk kesehatan, ternyata nilam setelah berubah menjadi minyak atsiri dapat dijadikan parfum.

Sayangnya, belakangan ini, masyarakat produsen mengeluhkan kendala yang dihadapi dan tidak adanya perhatian pemerintah akan nasib mereka itu.

Padahal, kata mereka, nilam yang menghasilkan minyak atsiri pada awal-awal produksi dihargai 400 hingga 600 ribu rupiah per kilogramnya.

See also  Domba Garut dan Domba Jawa Merambah Uni Emirat Arab

Beberapa faktor disebut jadi kendala, mulai dari alat produksi hingga pasokan air dari PDAM Kolot.

Untuk pasukan air, pihak produsen minyak atsiri telah menyiasati dengan sumur bor namun debit air kurang.

Demikian halnya dengan alat produksi yang telah rusak karena lama tidak digunakan.

Kelompok masyarakat produsen minyak atsiri menyebutkan bahwa mereka tidak lagi produktif sejak dua tahun lalu.

Padahal masyarakat sekitar merasa sangat terbantukan ekonominya oleh nilam.

Untuk itu, mereka sangat berharap bantuan pemerintah daerah melalui instansi terkait, bupati dan gubernur sultra untuk memberikan bantuan dana dan pelatihan. Demikian pula halnya terhadap pihak pengusaha agar bisa menyalurkan Dana CSR mereka kepada kelompok petani nilam dan kelompok produsen minyak atsiri.

See also  Terkait Dugaan Kredit Fiktif, DPRD Kab. Pinrang Lakukan RDP Dengan BRI

Kiprah Bupati Kolaka Utara Di Mata Masyarakat

Sejumlah masyarakat yang sempat ditemui wartawan pada kegiatan monitoring L-KAJI di Sultra mengeluhkan kinerja Bupati Nur Rahman Umar.

Berbagai julukan diberikan kepada bupatinya. Ada yang menyebut bupati drainase. Ada juga yang menyebutnya lalai mengelola kantornya. Hal itu terlihat pada bagian depan kantor bupati dan beberapa sudut yang tidak tersentuh perawatan maupun rehabilitasi sehingga terlihat kumuh.

Saat ini, ada OPD yang belum memiliki tempat sehingga gedung yang mereka gunakan masih berstatus kontrak.

Demikian pula terhadap program unggulan bupati yakni kakao yang menurut masyarakat sangat diskriminatif terhadap sektor pertanian maupun perkebunan termasuk nilam yang jauh lebih unggul dibandingkan kakao. / Dodi