Kajinews, Makassar  _  Kantor Otoritas Pelabuhan Utama Makassar lakukan sosialisasi peraturan tentang kelaikan jalan, tata muat angkutan dan pemasangan alat pemantul cahaya tambahan, bagi kendaraan angkutan barang di pelabuhan Makassar, Rabu (12/12/2018).

Kepala Kantor Otoritas Pelabuhan Utama Makassar Harno Trimadi mengatakan, kegiatan tersebut sebagai tindak lanjut dari, Deklarasi Keselamatan Transportasi yang dicanangkan Gubernur Sulsel beberapa waktu lalu.

Menurutnya, permasalahan keselamatan angkutan barang sampai saat ini belum bisa dituntaskan.

“Kadangkala kita saling lempar tanggung jawab, ditertibkan di jalan katanya dipelabuhan bisa, demikian sebaliknya. Olehnya mari kita sama sama duduk bersama untuk menyelesaikan permasalahan,” ujar Harno.

Lanjut Harno, UU No.22 tahun 2009 bukan UU perhubungan darat, tetapi UU RI jadi harus kita tegakkan secara bersama.

“Keberadaan saya sebagai kepala OP dengan backround perhubungan darat, maka saya akan mulai dari sisi angkutan barangnya, dengan Makassar new port, maka angkutan barang harus mengikuti regulasi yang ada. Kita sama sama melakukan pembenahan,” Tegas Harno.

Pada kegiatan yang dihadiri Kapolrestabes Makassar, Kepala Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) XIX Sulsel-Bar, PT Pelindo IV, ALFI/ILFA, APTRINDO dan ORGANDA tersebut juga dilakukan sosialisai pemasangan alat pemantul cahaya (APC) sesuai PP No.55 Tahun 2012.

“Sebenarnya saya berharap giat ini yang pertama, ternyata Tanjung Priuk sudah lebih awal, kemarin pak Menhub sudah memulai dan Insha Allah kita yg kedua, tapi terlepas dari itu, kegiatan ini mari kita jadikan momentum untuk bersinergi mematuhi dan menegakkan aturan terkait angkutan barang yang masuk dan keluar di wilayah pelabuhan,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala BPTD XIX, Benny Nurdin mengakui diminta Dirjenhubdat, Budi Setiyadi, terkait penindakan pelanggaran kendaraan overdimensi dan overload (ODOL) melakukan Berita Acara Biasa.

“Jadi bukan lagi tindak pidana ringan dengan tilang akan tetapi dikenakan pidana,” papar Benny.

Lanjut, Benny menjelaskan bahwa Penggunaan Alat Pemantul Cahaya (APC) sudah diberlakukan di 39 Negara, karena menurut penelitian kecelakaan terjadi karena tabrak samping dan belakang.

Terkait angkutan peti kemas, sesuai PM 14 Tahun 2016 wajib menggunakan trailer yaitu kereta tempelan.

“Tracktor Head yaitu kendaraan penarik dengan kereta tempelan,” ujar Benny. / Anisah AM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here