Home Ragam Kemandirian Nasional dan Globalisasi Ekonomi

Kemandirian Nasional dan Globalisasi Ekonomi

Oleh : Andi Imran.

E.F.Schumacher dalam bukunya Small is beautiful (limit to growth) menguraikan bagaimana tentang kecenderungan perekonomian dunia akibat globalisasi ekonomi serta potensi ancaman yang sedang dan akan dihadapi.

Kondisi ini mendorong terjadinya eksploitasi yang dilakukan secara besar-besaran terhadap sumber daya alam, konglomerasi dunia usaha, timbulnya masalah kemiskinan, ketidak seimbangan tingkat fertilitas dan mortalis penduduk dunia.

Bahkan peran perusahaan-perusahaan transnasional telah berhasil merampas kedaulatan ekonomi negara-negara dunia.

Terbukti, beberapa kasus pernah terjadi dimana dunia mengalami krisis ekonomi terberat sepanjang sejarah. Beberapa diantaranya seperti yang terjadi ditahun 1907 yang berawal dari kepanikan bangkrutnya bank-bank di Amerika akibat adanya over ekspansi dan spekulasi pasar yang buruk.

Kemudian krisis minyak ditahun 1973 dimana Organisation of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) melakukan embargo terhadap amerika yang mengakibatkan melonjaknya harga minyak dunia. Akibatnya, terjadi inflasi yang tinggi sehingga berdampak terhadap negara-negara lainnya.

Ditahun 1997 sebuah efek domino yang melanda kawasan Asia Tenggara menjadi pemicu adanya krisis global dimana rupiah anjlok dan terdevaluas. Puncaknya di tahun 1998, terjadi huru-hara politik yang mengakibatkan tumbangnya kekuasaan rezim orde baru.

Tahun 2007 resesi hebat di Amerika serikat, kemudian tahun 2009 terjadi krisis yang melanda kawasan negara-negara Eropa yang dikenal dengan krisis utang sovoreign.

Demokrasi seperti membuka kotak pandora, dimana, globalisasi telah menjelma menjadi juggernaut yang tidak hanya menciptakan bola salju persoalan tapi juga siap melindas kepentingan ekonomi negara-negara dunia.

Beberapa pakar ilmu pengetahuan yang berasal dari berbagai negara pernah memberikan rekomendasi kepada PBB tentang potensi bahaya yang mengancam dunia.

Persoalan inilah yang kemudian menjadi alasan, mengapa harus kembali pada kesadaran tentang pentingnya pemberdayaan terhadap potensi nasional yang dimiliki dalam menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi kita yang berpihak pada kepentingan rakyat.

Termasuk perlunya menjaga daya dukung lingkungan dalam pelaksanakan program pembangunan yang berkelanjutan.

Belanda hanyalah sebuah negara kecil yang berada ditengah-tengah eropa dengan julukan sebagai “small garden in europe” meski luas lahan pertaniannya tidak seluas yang kita miliki namun komoditas yang dihasilkan mampu menyuplai eropa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Must Read

Pokja & PPK Dinas PUPR Jeneponto Dapat Kritik Tajam Dari Lsm Kompleks

Kaji-News, Jeneponto | Proyek Pembangunan Infrastruktur Trotoar/Pedestrian Jalan/Drainase paket IV (empat) Dinas Pekerjaan Umum dan Penetaan Ruang Bidang Bina Marga Kabupaten Jeneponto tahun anggaran...

Lampu Jalan Tidak Berfungsi Normal, Jembatan Kuning Bak Jembatan Bolong

Kajinews, Mamuju  _  Jembatan di kaki Gunung Gandang Dewata yang melintas diatas Sungai Takandeang itu adalah pengganti Jembatan Bolong. Namanya Jembatan Kuning. Terletak di...

Tak Penuhi Espektasi Masyarakat, Jembatan Kuning Mamuju Terabaikan

Kajinews, Mamuju  _  Jembatan dengan konstruksi kolong pertama di Indonesia, Jembatan Kuning bukan hanya kebangaan Sulbar tapi kebangaan masyarakat Indonesia. Sayangnya, saat ini, pengemudi roda...

Letkol Nav Janur Yudo Anggoro MTr (Han) Jabat Danskadik 403 Lanjut Adi Sumarmo

Kajinews, Mamuju  _  Komandan Lanud Adi Soemarmo Kolonel Pnb Adrian P Damanik ST memimpin upacara serah terima jabatan Komandan Skadron Pendidikan (Danskadik) 403 Lanud...

Kisruh Tambang di Pinrang, Kajati Sulsel Mengaku Berkoordinasi dan Bekerjasama Beberapa Pihak

Kajinews, Mamuju  _  Terkait permasalahan tambang yang ada di wilayahnya, Kajati Sulsel Firdaus Dewilmar SH MH menyampaikan kalau pihaknya telah bekerja sama dengan beberapa...
%d bloggers like this: