Kajinews, Makassar _  Oknum penyidik Unit 2 Polsek Curug, Tangerang, diduga telah melecehkan profesi pengacara dan wartawan.

Bahkan, Kepala Tim Penyidik Aritonang telah mengusir Kuasa Hukum US.

Hal itu dikatakan sumber, yang ditahan dengan tanpa status penahanannya sejak pukul 16.00 sore, pada Rabu (14/11/ 2018) hingga Jum’at (16/11/2018) pukul 01.30 dini hari.

Dari release Opan yang diterima, permasalahan bermula saat US (24 Th) dituduh berselingkuh dengan LS yang telah bersuamikan AD (hidup dengan memeras orang dan pecandu narkoba, sesuai pengakuan LS).

LS yang berstatus sebagai istri AD mengakui bahwa hubungannya dengan US karena saling cinta dan sayang.

US yang polos itu tak mengerti permainan segitiga ini. Ia merasa terjebak dalam kondisi yang sulit, hingga akhirnya US dijemput dirumahnya, pada Selasa (13/11/2018) pukul 19.00 oleh 3 orang yang tidak dikenal.

Belakangan, terbongkar bahwa ke-3 orang yang menjemputnya adalah AD bersama kedua temannya.

“AD datang kerumah kami untuk menjemput US, sambil memperlihatkan bukti laporan kepolisian di Polsek Curug Sekar yang dipegangnya,” jelas sumber yang identitasnya dirahasiakan.

US akhirnya dibawa ke Polsek untuk dimintai keterangan dengan janji akan dikembalikan.

Setelah diperiksa dan dimintai keterangan, US tidak dikembalikan namun disuruh menginap di kantor polisi 1 X 24 jam, dengan alasan, untuk memancing pelapor (AD) dan wanita (LS) agar datang ke polsek dan menyelesaikan dengan cara mediasi.

Jum’at (16/11/2018) sekitar jam 02.00 dini hari, AD dan keluarga LS hadir untuk jalani proses mediasi, namun kehadirannya tidak memberi solusi karena pelapor meminta uang ke US sebesar 150 Jt.

Kuat dugaan, kasus ini merupakan skenario pemerasan untuk menjebak US.

Melalui Jalintar Simbolon, SH., pengacara keluarga US dan kuasan hukum US menginginkan kasus ini menjadi terang benderang.

Ketua LBH Bara JP, Jalintar Simbolon SH

Ketua LBH Bara JP Jalintar Simbolon SH kuasa hukum US, mempertanyakan alasan kliennya ditahan penyidik Polsek Curug selama 33,5 jam.

“Saya menanyakan ke para penyidik tentang status klien saya US, namun tidak ada satu jawabanpun dari Kepala Tim Unit 2 Ari Tonang maupun penyidik lainnya atas penahanan US,” beber Jalintar.

Keesokan harinya, Sabtu (16/11/2018) pukul 01.30, US dibebaskan.

“Polisi tidak mampu menunjukkan status penahanan klien saya, US. dan tidak bisa menjelaskan ketetapan waktu hukum (Tempus delictus) atas penyerahan/penahanan US, sehingga kepastian hukum di Polsek Curug jadi amburadul,” tegas Jalintar di Kantor Advokad, Minggu (18/11/2018).

Dikatakan Jalintar, Kepala Tim Penyidik Unit 2 bahkan mengusirnya dari ruangan.

“Saya sebagai kuasa hukumnya US, telah diusir dari ruang penyidik. Ini merupakan pelecehan dan tindakan sewenang-wenangan serta pelanggaran kode etik polisi sebagai penegak hukum yang telah melakukan kuman penghinaan/content of court terhadap institusi penegak hukum lainya/advokat,” ujar Jalintar.

Untuk itu, ia akan laporkan hal ini ke Kapolri, Propam Mabes Polri, Mahkamah Agung, Ombudsman dan organisasi advokat atas kejadian yang dilakukan oknum polisi.

“Ini saya lakukan agar tidak terjadinya lagi hal hal sperti ini dikemudian hari.” tegas Jalintar.

Selain itu, menurut sumber yang lain, ada oknum yang menyidik kasus US mengatakan dirinya tidak takut dengan pengacara dan wartawan.

“Asal kamu tau yaa, berapapun pengacara dan ribuan wartawan kemari, kita gak takut. Ini maahh wartawan – wartawan dan pengacara yang datang kemari ‘kecil’,” ucap oknum tersebut. / Rangga